Good evening!
I've told you guys before that I'd become a teacher assistant for special education department in Sekolah Cita Buana. Nah, hari ini saya sudah bertemu dengan ke-14 anak-anak muridnya. Ada Sammy (paling ganteng), Brian (jago gambar), Joey (ABAS, Anak Basket), Rafi (paling bawel), Rizqi (kalau ngomong masih suka kebolak-balik), Sylvana (paling anggun), Calli (sekali giggle, susah berhenti), Adela (masih agak sulit untuk mengenal dia, maybe next time I'm gonna be able to describe her), Fikri (kalau ngomong merepet), Gio (paling imut, literally), Jordan (agak pemalu), Eun Kyoung (She's nice, mudah berinteraksi), Wilbert (pintar, tapi masih suka ngawang mengingatkan saya sama salah satu anak di Montessori dulu), Nicole (pintar, agak kemayu).
Di antara mereka ber-14, Wilbert dan Nicole adalah anak baru dan mereka yang paling kecil. Rata-rata umur mereka 7-12 tahun, kalau tidak salah, Joey bilang kalau dia sebentar lagi akan berulang tahun yang ke-12. Hari pertama ini saya belum bisa bercerita banyak. Selama seminggu ini mungkin bisa dibilang akan jadi masa-masa PDKT saya ke mereka. Karena nantinya saya akan mendampingin beberapa anak yang akan mengikuti kelas di mainstream.
Oh iya, saya belum bercerita sistem di sekolah Cita Buana ini. Jadi selain ada TK - SMA, SCB ini juga memiliki Special Education Department. Di departemen ini ada 3 unit, SN (special needs Unit), LC (learning Center), dan TEC (Transfer of Education Center) CMIIW. Di unit SN itu untuk anak-anak usia 7-12 yang masih harus berlatih basic skills, sedangkan di LC itu adalah anak-anak berusia 7-12 tahun yang sudah mampu latih (sudah bisa berinteraksi dan menangkap pelajaran, CMIIW again). Sedangkan TEC itu untuk anak-anak usia 12-18 tahun yang masih harus berlatih basic skills (again, CMIIW). Nah, untuk beberapa anak, mereka akan mengikuti pelajaran di kelas mainstream (integrasi) untuk mengikuti pelajaran selain pelajaran yang di ajarkan di unit-unit tersebut (kalau di LC: Language, Math, B. Indonesia) sekaligus melatih kemampuan sosial mereka juga.
Nah, nantinya saya akan menemani beberapa anak untuk pergi ke kelas mainstream untuk mengikuti pelajaran di sana. Perasaan saya saat ini campur aduk, antara excited dan cemas. Excited karena saya memiliki kesempatan untuk membantu mereka memahami pelajaran-pelajaran di kelas mainstream, namun di satu sisi, saya cemas, apakah saya akan bisa membantu mereka mengikuti kelas tersebut. Well.. We'll see about that. Yang pasti untuk pertama, mungkin saya akan didampingin oleh salah seorang guru dari LC juga. Mungkin setelah beberapa saat saya akan menemani mereka sendiri.
I really can't wait to see what would happen tomorrow and the next day and the next day. It's so exciting!! :D
Have a good night!
Monday, 25 July 2011
Tuesday, 5 July 2011
Pretending
You'll see me smiling
You'll see me laughing
You might think I'm Ok
You might think I'm fine
You might think I'm strong enough
But the truth, is hidden inside me
Take a good look
You'll see tears
In my smile and in my laugh
I'm not strong enough
I'm not Ok
I'm not fine.
But don't worry
I'll try to be..
You'll see me laughing
You might think I'm Ok
You might think I'm fine
You might think I'm strong enough
But the truth, is hidden inside me
Take a good look
You'll see tears
In my smile and in my laugh
I'm not strong enough
I'm not Ok
I'm not fine.
But don't worry
I'll try to be..
Monday, 4 July 2011
Disappoinment
Good Evening!
Actually, I don't know what to write. I just want to spit these things inside my head. Here it goes.
At first, It was exciting and great. I admit that I assumed (or hoped) that there would be something good from it. But, it turned out as a disappointment. Gue ngga sedih, ngga marah karena ngga jadi. Gue sedih dan kecewa karena gue pikir dia cukup gentle untuk bisa berhadapan langsung dengan gue untuk ngomongin hal ini. Instead of talking right in front of me, he decided to, slowly, disappear from my life. You can't just come into somebody's life, and leave without permission. That's just rude.
Anyway, I'm not blaming anyone. At least I can learn something from it. :)
Cheers! :)
Actually, I don't know what to write. I just want to spit these things inside my head. Here it goes.
At first, It was exciting and great. I admit that I assumed (or hoped) that there would be something good from it. But, it turned out as a disappointment. Gue ngga sedih, ngga marah karena ngga jadi. Gue sedih dan kecewa karena gue pikir dia cukup gentle untuk bisa berhadapan langsung dengan gue untuk ngomongin hal ini. Instead of talking right in front of me, he decided to, slowly, disappear from my life. You can't just come into somebody's life, and leave without permission. That's just rude.
Anyway, I'm not blaming anyone. At least I can learn something from it. :)
Cheers! :)
Wednesday, 29 June 2011
Just A Thought
Good Evening!
Mau cerita sedikit. Tapi sebelumnya, mohon maaf kalau ada pihak-pihak yang tersinggung. Sumpah ngga bermaksud jelek. Jadi, kemarin ini, di twitter baru muncul akun baru yang bernama @SaveStreetChild. Gue pun tertarik untuk ikutan. Gue follow lah tuh kan. Ternyata ada facebook dan blognya. Gue buka lah 2 situs tersebut. Pas gue lihat siapa yang memprakarsai, gue kagum,terharu, sedih, dan merasa tertampar. Campur aduk deh.
Gue kagum dan terharu sama para mahasiswa dari Universitas Paramadina. Disaat kayak gini, mereka masih mau memikirkan anak-anak jalanan tersebut. Disaat orang-orang banyak yang mencibir anak-anak jalanan, mereka justru berusaha meraih anak-anak jalanan tersebut dan mau melakukan sesuatu untuk mereka. Mereka ini memberikan inspirasi yang sangat tinggi kepada semua masyarakat. Sampai-sampai mereka sudah punya cabang di Surabaya, Medan, Makassar dan Bandung. Hebat kan?! Hebat! Gue sangat-sangat senang ada yang mau mulai bergerak untuk bikin komunitas semacam ini. 1 Trilyun jempol untuk kalian. :)
Gue sedih dan merasa tertampar. Pasti pada bingung ya, kenapa gue sedih. Gue sedih, karena ide tersebut, kegiatan ini, munculnya justru dari mereka yang kuliahnya di Universitas swasta yang mana tentunya tidak seperti kami-kami ini yang kuliah di Universitas Negeri, yang (katanya) dibayarin rakyat. Mereka yang uang kuliahnya tidak dibayari oleh rakyat, justru malah mau bersusah payah untuk bikin kegiatan semacam ini. Mereka justru mau merangkul anak-anak jalanan. Dan ya, Gue merasa tertampar.
Jujur, gue malu. Gue kuliah di Universitas Negeri, yang katanya uang kuliahnya sebagian pakai duit rakyat. Dulu waktu jaman-jaman ospek, sebagai MaBa, kami pernah diperkenalkan kepada yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang kalau tidak salah isinya itu: Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Terus kalau tidak salah lagi, para Mahasiswa Baru juga diperkenalkan kepada 3 peran mahasiswa yaitu: Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock. Sejujurnya gue juga masih ngawang sih kalau masalah 3 peran tersebut.
Entah guenya yang selama jadi mahasiswa terlalu ignorant, skeptis, dan apatis, entah gimana. Tapi kok gue tidak melihat adanya pengabdian para mahasiswa ke masyarakat ya? Okelah, setiap fakultas punya yang namanya "Departemen Pengabdian Masyarakat" atau "Sosial Masyarakat" di BEMnya. Gue sempet masuk sebagai salah satu anggota PengMas. Selama berkegiatan di BEM tersebut kami pernah pergi ke daerah Jakarta Utara untuk mengajar anak-anak nelayan di situ. Terus kami dan teman-teman dari BEM UI juga pernah ke daerah Pelumpang untuk melihat salah satu rumah singgah untuk anak-anak jalanan. Di sana mereka ada rumah singgah plus sekolah untuk anak-anak tersebut. Kurang tau juga gimana kelanjutannya sih. Masih banyak juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Lepas dari itu semua. (setau gue) Belum pernah ada yang mau capek-capek bikin sebuah komunitas seperti "Save Street Child" ini. Ketika menyebutkan mahasiswa UI, gue pasti akan kebawa. Itu juga kenapa gue bilang, gue malu. Gue pun malu sama diri gue sendiri. Gue sering kepikiran untuk bikin sekolah gratis untuk anak-anak jalanan, tapi, belum terealisasikan sama sekali. Apakah kita ini orang-orang NATO? Yang bisanya cuma ngomong doang, tapi ngga pernah ada aksi apa-apa? Bisanya kasih kritik doang, tapi ngga kasih solusi sama sekali? Atau mungkin guenya yang dulu terlalu ignorant sampai melewatkan beberapa kegiatan-kegiatan kayak gini? Mungkin karena tuntutan akademis juga yang menghambat kita untuk membuat komunitas seperti ini?
Anyhow, Tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekan atau apa. Tulisan ini pure gue buat based on my own feelings. Goodluck untuk para calon Mentor, Goodluck untuk pengurus Save Street Child! Semoga makin berkembang dan makin bisa membantu para anak-anak jalanan di Indonesia untuk bisa berkarya. :)
Have a blessed life! Cheers! :)
Mau cerita sedikit. Tapi sebelumnya, mohon maaf kalau ada pihak-pihak yang tersinggung. Sumpah ngga bermaksud jelek. Jadi, kemarin ini, di twitter baru muncul akun baru yang bernama @SaveStreetChild. Gue pun tertarik untuk ikutan. Gue follow lah tuh kan. Ternyata ada facebook dan blognya. Gue buka lah 2 situs tersebut. Pas gue lihat siapa yang memprakarsai, gue kagum,terharu, sedih, dan merasa tertampar. Campur aduk deh.
Gue kagum dan terharu sama para mahasiswa dari Universitas Paramadina. Disaat kayak gini, mereka masih mau memikirkan anak-anak jalanan tersebut. Disaat orang-orang banyak yang mencibir anak-anak jalanan, mereka justru berusaha meraih anak-anak jalanan tersebut dan mau melakukan sesuatu untuk mereka. Mereka ini memberikan inspirasi yang sangat tinggi kepada semua masyarakat. Sampai-sampai mereka sudah punya cabang di Surabaya, Medan, Makassar dan Bandung. Hebat kan?! Hebat! Gue sangat-sangat senang ada yang mau mulai bergerak untuk bikin komunitas semacam ini. 1 Trilyun jempol untuk kalian. :)
Gue sedih dan merasa tertampar. Pasti pada bingung ya, kenapa gue sedih. Gue sedih, karena ide tersebut, kegiatan ini, munculnya justru dari mereka yang kuliahnya di Universitas swasta yang mana tentunya tidak seperti kami-kami ini yang kuliah di Universitas Negeri, yang (katanya) dibayarin rakyat. Mereka yang uang kuliahnya tidak dibayari oleh rakyat, justru malah mau bersusah payah untuk bikin kegiatan semacam ini. Mereka justru mau merangkul anak-anak jalanan. Dan ya, Gue merasa tertampar.
Jujur, gue malu. Gue kuliah di Universitas Negeri, yang katanya uang kuliahnya sebagian pakai duit rakyat. Dulu waktu jaman-jaman ospek, sebagai MaBa, kami pernah diperkenalkan kepada yang namanya Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang kalau tidak salah isinya itu: Pengajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Terus kalau tidak salah lagi, para Mahasiswa Baru juga diperkenalkan kepada 3 peran mahasiswa yaitu: Agent of Change, Social Control, dan Iron Stock. Sejujurnya gue juga masih ngawang sih kalau masalah 3 peran tersebut.
Entah guenya yang selama jadi mahasiswa terlalu ignorant, skeptis, dan apatis, entah gimana. Tapi kok gue tidak melihat adanya pengabdian para mahasiswa ke masyarakat ya? Okelah, setiap fakultas punya yang namanya "Departemen Pengabdian Masyarakat" atau "Sosial Masyarakat" di BEMnya. Gue sempet masuk sebagai salah satu anggota PengMas. Selama berkegiatan di BEM tersebut kami pernah pergi ke daerah Jakarta Utara untuk mengajar anak-anak nelayan di situ. Terus kami dan teman-teman dari BEM UI juga pernah ke daerah Pelumpang untuk melihat salah satu rumah singgah untuk anak-anak jalanan. Di sana mereka ada rumah singgah plus sekolah untuk anak-anak tersebut. Kurang tau juga gimana kelanjutannya sih. Masih banyak juga kegiatan-kegiatan yang dilakukan.
Lepas dari itu semua. (setau gue) Belum pernah ada yang mau capek-capek bikin sebuah komunitas seperti "Save Street Child" ini. Ketika menyebutkan mahasiswa UI, gue pasti akan kebawa. Itu juga kenapa gue bilang, gue malu. Gue pun malu sama diri gue sendiri. Gue sering kepikiran untuk bikin sekolah gratis untuk anak-anak jalanan, tapi, belum terealisasikan sama sekali. Apakah kita ini orang-orang NATO? Yang bisanya cuma ngomong doang, tapi ngga pernah ada aksi apa-apa? Bisanya kasih kritik doang, tapi ngga kasih solusi sama sekali? Atau mungkin guenya yang dulu terlalu ignorant sampai melewatkan beberapa kegiatan-kegiatan kayak gini? Mungkin karena tuntutan akademis juga yang menghambat kita untuk membuat komunitas seperti ini?
Anyhow, Tulisan ini bukan untuk menjelek-jelekan atau apa. Tulisan ini pure gue buat based on my own feelings. Goodluck untuk para calon Mentor, Goodluck untuk pengurus Save Street Child! Semoga makin berkembang dan makin bisa membantu para anak-anak jalanan di Indonesia untuk bisa berkarya. :)
Have a blessed life! Cheers! :)
Wednesday, 22 June 2011
Ambitious: Am I or am I not?
Selamat malam!
Mau agak serius dikit ah. Tiba-tiba pengen ngebahas mengenai "ambisius". He? Kenapa tiba-tiba gue yang dodol ini ngomongin hal berat ya? Gue sendiri juga bingung. Ditengah-tengah gue harus ngerevisi 6 jobdescs hasil validasi, tiba-tiba keingetan, Mama pernah bilang, gue itu orangnya ambisius. Klo gue mau sesuatu, pasti gue akan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai sesuatu tersebut. Tapi di sisi lain, gue (dan mungkin beberapa orang lainnya) terkadang berpikir kalo gue itu ngga ambisius.
Hm.. Oke, mama sering mencontohkan keambisiusan gue dengan suatu masa dimana gue lagi pengen banget naik sepeda. Gue latihan sendiri sampe jatoh, 3 hari kemudian, gue udah lancar ngebut. Gue juga bingung sih kenapa itu yang selalu dijadiin contoh sama mama. Apa karena gue dulu lebih sering menghabiskan waktu gue sepedaan dibandingin belajar? Errrr... Who knows.. :p
Anyway, gue pribadi terkadang suka tidak menganggap diri gue ini ambisius. Iya gue saat itu emang lagi pengen-pengennya naik sepeda, dibeliin sepeda, sayang dong klo cuma dibiarin ngejogrok di garasi. Lagian saat itu gue lagi pengen banget (sok-sok) main sama anak-anak sepantaran gue di situ. Tapi that's it. It was just lasted for.. a few weeks.
Tapi pernah suatu waktu, gue dibilang klo gue ngga ambisius karena gue lebih memilih untuk jadi guru yang mungkin gajinya ga seberapa dibandingin sama pekerja kantoran. Ya, gue ga bisa nyalahin juga sih, mengingat papa, mama, dan kakak-kakak gue termasuk orang-orang pekerja kantoran yang hebat. Papa, dulu kerja hampir 17 tahun. Mama, sampe sekarang masih kerja sebagai editor, disayang bosnya, Teteh, well.. Klo mau diceritain, bisa besok malem lagi baru kelar. Yes, she's in a very good position now and also loved by her boss. Aa'? He works hard as a lawyer, dan lagi-lagi disayang sama bosnya. Gue? Masih piyik lah.. Paling kecil, paling dodol, paling bontot lah.. Hahaha..p
Dulu gue pernah pengen banget jadi career woman. Kerja kantoran, duduk di ruangan, tanda-tangan kertas-kertas, dapet duit lumayan. Yes, I used to dream about that, but not anymore karena makin ke sini, kerjaan kayak gitu bikin gue bosen. Kerja dari jam 8.30an sampe jam 5an, di depan komputer, di dalem petakan,hell to the no for me. That's just not me. Ternyata makin ke sini, gue makin merasakan sesuatu yang lebih dari berinteraksi dengan anak-anak (preschool-primary). Apalagi kemaren abis demo teaching di Cita Buana (I got the job, Alhamdulillah), ada satu anak (he's autistic) yang nanyain kabar gue, nanyain gue mau kemana, nanyain apakah gue besok dateng lagi. It's priceless.
Ya, gue mau jadi guru, merangkap Psikolog (atau Psikolog merangkap guru? sama bae itu sih menurut gue ya..). Panjang kronologis kenapa gue kekeuh mau jadi guru, guru anak-anak special needs lagi. Singkat cerita, seperti yang pernah gue tulis di blog sebelumnya (bukan yang sebelum ini ya), gue mau jadi psikolog klinis anak, gue pengen kuliah di luar negeri (UK), dan karena mahal, gue harus dapet scholarship. Untuk dapet scholarship itu, either gue harusp punya IPK bagus (di atas 3), atau gue punya pengalaman, atau keduanya. Karena IPK gue pas-pasan, 3 aja ga sampe, maka mau ngga mau gue harus punya pengalaman 1-2 tahun dan seinget gue, pengalamannya itu harus dibidang yang emang nantinya akan kita ambil. So, yes, here I am. Proudly introducing myself as A Special Education Teacher Assistant. :).
Jadi sebenernya gue ini ambisius atau ngga sih? Klo gue memandang diri gue sekarang, ya, gue ambisius. Tapi mungkin kalo orang luar ngeliat gue, membandingkan gue dengan mama atau teteh atau aa', mungkin gue akan terlihat tidak ambisius (atau mungkin kurang ambisius). Terkadang agak "nyess" sih gue kalo dibilang gue kurang ambisius karena gue tidak berkarier seperti mama atau teteh. Tapi ya, this is me. I don't like cubicles (but I love the outfits :p). I want to be a teacher and a psychologist. Working with kids, interacting with them. That's what I want to do. That's what my ambition is. :)
Have a wonderful life! Cheers!
Mau agak serius dikit ah. Tiba-tiba pengen ngebahas mengenai "ambisius". He? Kenapa tiba-tiba gue yang dodol ini ngomongin hal berat ya? Gue sendiri juga bingung. Ditengah-tengah gue harus ngerevisi 6 jobdescs hasil validasi, tiba-tiba keingetan, Mama pernah bilang, gue itu orangnya ambisius. Klo gue mau sesuatu, pasti gue akan berusaha sekeras mungkin untuk mencapai sesuatu tersebut. Tapi di sisi lain, gue (dan mungkin beberapa orang lainnya) terkadang berpikir kalo gue itu ngga ambisius.
Hm.. Oke, mama sering mencontohkan keambisiusan gue dengan suatu masa dimana gue lagi pengen banget naik sepeda. Gue latihan sendiri sampe jatoh, 3 hari kemudian, gue udah lancar ngebut. Gue juga bingung sih kenapa itu yang selalu dijadiin contoh sama mama. Apa karena gue dulu lebih sering menghabiskan waktu gue sepedaan dibandingin belajar? Errrr... Who knows.. :p
Anyway, gue pribadi terkadang suka tidak menganggap diri gue ini ambisius. Iya gue saat itu emang lagi pengen-pengennya naik sepeda, dibeliin sepeda, sayang dong klo cuma dibiarin ngejogrok di garasi. Lagian saat itu gue lagi pengen banget (sok-sok) main sama anak-anak sepantaran gue di situ. Tapi that's it. It was just lasted for.. a few weeks.
Tapi pernah suatu waktu, gue dibilang klo gue ngga ambisius karena gue lebih memilih untuk jadi guru yang mungkin gajinya ga seberapa dibandingin sama pekerja kantoran. Ya, gue ga bisa nyalahin juga sih, mengingat papa, mama, dan kakak-kakak gue termasuk orang-orang pekerja kantoran yang hebat. Papa, dulu kerja hampir 17 tahun. Mama, sampe sekarang masih kerja sebagai editor, disayang bosnya, Teteh, well.. Klo mau diceritain, bisa besok malem lagi baru kelar. Yes, she's in a very good position now and also loved by her boss. Aa'? He works hard as a lawyer, dan lagi-lagi disayang sama bosnya. Gue? Masih piyik lah.. Paling kecil, paling dodol, paling bontot lah.. Hahaha..p
Dulu gue pernah pengen banget jadi career woman. Kerja kantoran, duduk di ruangan, tanda-tangan kertas-kertas, dapet duit lumayan. Yes, I used to dream about that, but not anymore karena makin ke sini, kerjaan kayak gitu bikin gue bosen. Kerja dari jam 8.30an sampe jam 5an, di depan komputer, di dalem petakan,hell to the no for me. That's just not me. Ternyata makin ke sini, gue makin merasakan sesuatu yang lebih dari berinteraksi dengan anak-anak (preschool-primary). Apalagi kemaren abis demo teaching di Cita Buana (I got the job, Alhamdulillah), ada satu anak (he's autistic) yang nanyain kabar gue, nanyain gue mau kemana, nanyain apakah gue besok dateng lagi. It's priceless.
Ya, gue mau jadi guru, merangkap Psikolog (atau Psikolog merangkap guru? sama bae itu sih menurut gue ya..). Panjang kronologis kenapa gue kekeuh mau jadi guru, guru anak-anak special needs lagi. Singkat cerita, seperti yang pernah gue tulis di blog sebelumnya (bukan yang sebelum ini ya), gue mau jadi psikolog klinis anak, gue pengen kuliah di luar negeri (UK), dan karena mahal, gue harus dapet scholarship. Untuk dapet scholarship itu, either gue harusp punya IPK bagus (di atas 3), atau gue punya pengalaman, atau keduanya. Karena IPK gue pas-pasan, 3 aja ga sampe, maka mau ngga mau gue harus punya pengalaman 1-2 tahun dan seinget gue, pengalamannya itu harus dibidang yang emang nantinya akan kita ambil. So, yes, here I am. Proudly introducing myself as A Special Education Teacher Assistant. :).
Jadi sebenernya gue ini ambisius atau ngga sih? Klo gue memandang diri gue sekarang, ya, gue ambisius. Tapi mungkin kalo orang luar ngeliat gue, membandingkan gue dengan mama atau teteh atau aa', mungkin gue akan terlihat tidak ambisius (atau mungkin kurang ambisius). Terkadang agak "nyess" sih gue kalo dibilang gue kurang ambisius karena gue tidak berkarier seperti mama atau teteh. Tapi ya, this is me. I don't like cubicles (but I love the outfits :p). I want to be a teacher and a psychologist. Working with kids, interacting with them. That's what I want to do. That's what my ambition is. :)
Have a wonderful life! Cheers!
Friday, 17 June 2011
A New Book
Good Evening..
Langsung aja ya. Jadi hari ini, gue pergi untuk medical check up di Mahakam sama mama. Abis itu kita ke RSPI untuk ke dokter kulit buat tangannya mama. Dari situ, seperti biasa, mama mengajak gue ke PIM buat makan siang. Setelah makan siang, gue dan mama pun pergi ke spot utama di PIM, yaitu Gramedia. Pas gue lagi lihat-lihat buku, "jreng jreng" (lebay). Ada buku "Cheers, UK!". Wow. Apa nih? pikir gue. Gue baca sehalaman dua halaman, itu yang namanya jantung gue, langsung jadi cepat. Tiba-tiba sesek pengen nangis.
Call me drama queen, norak, dan sebagainya. Gue akui, semenjak tahun lalu, keinginan gue untuk balik lagi ke UK untuk kuliah itu jadi makin gila. Gue sampai punya kertas-kertas yang isinya perhitungan dana yang gue butuhin selama di sana dan perhitungan dana yang gue punya. Gue juga udah mulai browsing soal tempat tinggal, dll. Gila? Yes. Tapi kalau kata mama, yang kayak gitu gpp dilakuin. Namanya gue lagi picturing mimpi gue. Aamiin! Semoga terwujud.
Anyway, kembali ke buku "Cheers, UK!". Gue belum baca semua sih. Baru halaman-halaman awal. Sampai di rumah, gue langsung nyari nama pengarangnya di Facebook. Sekalian gue add, sekalian gue kirim message. Kenapa? Karena biasanya orang-orang (at least, gue) pasti males kan kalau dapet friend request dari orang yang ngga dikenal. Eh, ngga taunya, message gue dibales! Akhirnya kita ngobrol-ngobrol tentang masalah scholarship dll. Tadinya gue udah hopeless untuk coba apply Chevening. Tapi katanya mbak Citra, dia punya teman yang IPKnya juga dibawah 3, tapi bisa lolos Chevening. Jadilah gue bersemangat untuk coba apply Chevening.
Semoga aja dengan gue beli buku ini, dengan gue kenal sama authornya, chance gue untuk bisa kuliah di sana bisa lebih besar. Bukan berarti kalau gue kenal authornya gue bisa gampang dapet scholarship, tapi siapa tau gue bisa belajar dari dia tentang masalah scholarship dan perkuliahan di luar kan? Who knows.. :)
Well.. Cuma mau cerita itu sih.. Bismillah. I believe with the power of mind, karena ada yang bilang "stop saying I hope, or maybe. Start saying I can and will be" :)
Have a great weekend!
Langsung aja ya. Jadi hari ini, gue pergi untuk medical check up di Mahakam sama mama. Abis itu kita ke RSPI untuk ke dokter kulit buat tangannya mama. Dari situ, seperti biasa, mama mengajak gue ke PIM buat makan siang. Setelah makan siang, gue dan mama pun pergi ke spot utama di PIM, yaitu Gramedia. Pas gue lagi lihat-lihat buku, "jreng jreng" (lebay). Ada buku "Cheers, UK!". Wow. Apa nih? pikir gue. Gue baca sehalaman dua halaman, itu yang namanya jantung gue, langsung jadi cepat. Tiba-tiba sesek pengen nangis.
Call me drama queen, norak, dan sebagainya. Gue akui, semenjak tahun lalu, keinginan gue untuk balik lagi ke UK untuk kuliah itu jadi makin gila. Gue sampai punya kertas-kertas yang isinya perhitungan dana yang gue butuhin selama di sana dan perhitungan dana yang gue punya. Gue juga udah mulai browsing soal tempat tinggal, dll. Gila? Yes. Tapi kalau kata mama, yang kayak gitu gpp dilakuin. Namanya gue lagi picturing mimpi gue. Aamiin! Semoga terwujud.
Anyway, kembali ke buku "Cheers, UK!". Gue belum baca semua sih. Baru halaman-halaman awal. Sampai di rumah, gue langsung nyari nama pengarangnya di Facebook. Sekalian gue add, sekalian gue kirim message. Kenapa? Karena biasanya orang-orang (at least, gue) pasti males kan kalau dapet friend request dari orang yang ngga dikenal. Eh, ngga taunya, message gue dibales! Akhirnya kita ngobrol-ngobrol tentang masalah scholarship dll. Tadinya gue udah hopeless untuk coba apply Chevening. Tapi katanya mbak Citra, dia punya teman yang IPKnya juga dibawah 3, tapi bisa lolos Chevening. Jadilah gue bersemangat untuk coba apply Chevening.
Semoga aja dengan gue beli buku ini, dengan gue kenal sama authornya, chance gue untuk bisa kuliah di sana bisa lebih besar. Bukan berarti kalau gue kenal authornya gue bisa gampang dapet scholarship, tapi siapa tau gue bisa belajar dari dia tentang masalah scholarship dan perkuliahan di luar kan? Who knows.. :)
Well.. Cuma mau cerita itu sih.. Bismillah. I believe with the power of mind, karena ada yang bilang "stop saying I hope, or maybe. Start saying I can and will be" :)
Have a great weekend!
Friday, 10 June 2011
June 5th 1949 - June 11th 2007
"Would you know my name
If I saw you in heaven
Will it be the same
If I saw you in heaven"
-Eric Clapton-
It's already 4 years. Time flies so fast. I sometimes ask myself, would my Dad remember me when we meet in Heaven? I don't know yet whether I get the heaven or hell. BUT, if I went to heaven, would he remember me? Would you, Pah? I hope you'd still remember me. o Let me tell you something about my dad. He’s an amazing man.
My dad was born on June 5th 1949 and passed away on June 11th 2007. He went to ITB. He’s a smart man (academically and non-academic). He used to teach me math when I was in Elementary (I used to reject his lessons tho.. Well Back then, we’re all thinking that our teacher is everything, right?). He could fix the TV, the radio, etc. He had a good sense of music, he also taught me some basic of piano, he played piano, guitar, harmonica. He’s a multitalented man, don’t you think? :p
That’s only his skills that I talked about. Now about his traits. He’s a very patient, humble, and kind person. As I remember, I never seen him get angry to anyone, and I mean never ever ever. Once, on the road, there’s this stupid asshole riding a motorbike, and he gave his middle finger to my father. I told him to put some speed to the car because I wanted to yell or even throw something to that guy, but he refused. He said, “let him.. It’s ok”. See how patient he was.
I remember how he helped me when I had tasks from the school organization. Also when OSPEK time in University, my dad helped me with the name tag etc. When I was in HS, I used to go to school with my dad. He had to wake up early so that we could go at 5.45 or 6 am. He would arrive at his office around 7 or 8am and slept for a while inside the car because his office was still locked. :') He sacrificed a lot for me (and also for my brother and sister).
Well.. That's my father. Such a great man.. :') I'm gonna miss him for the rest of my life. I love you Pah. Maybe you rarely heard it from me, but I do.. Rest in Peace, pah. Till we meet again.. :*
Have a nice weekend people! Cherio! :*
My dad was born on June 5th 1949 and passed away on June 11th 2007. He went to ITB. He’s a smart man (academically and non-academic). He used to teach me math when I was in Elementary (I used to reject his lessons tho.. Well Back then, we’re all thinking that our teacher is everything, right?). He could fix the TV, the radio, etc. He had a good sense of music, he also taught me some basic of piano, he played piano, guitar, harmonica. He’s a multitalented man, don’t you think? :p
That’s only his skills that I talked about. Now about his traits. He’s a very patient, humble, and kind person. As I remember, I never seen him get angry to anyone, and I mean never ever ever. Once, on the road, there’s this stupid asshole riding a motorbike, and he gave his middle finger to my father. I told him to put some speed to the car because I wanted to yell or even throw something to that guy, but he refused. He said, “let him.. It’s ok”. See how patient he was.
I remember how he helped me when I had tasks from the school organization. Also when OSPEK time in University, my dad helped me with the name tag etc. When I was in HS, I used to go to school with my dad. He had to wake up early so that we could go at 5.45 or 6 am. He would arrive at his office around 7 or 8am and slept for a while inside the car because his office was still locked. :') He sacrificed a lot for me (and also for my brother and sister).
Well.. That's my father. Such a great man.. :') I'm gonna miss him for the rest of my life. I love you Pah. Maybe you rarely heard it from me, but I do.. Rest in Peace, pah. Till we meet again.. :*
Have a nice weekend people! Cherio! :*
Subscribe to:
Posts (Atom)